Ilustrasi warga pribumi tempo doeloe (Lukisan koleksi Tropen Museum)

Uniknya Kelas Sosial Masyarakat Desa di Jogja Tempo Doeloe

Oleh Maya Eka,

Sudah menjadi kelas sosial paling bawah, warga pribumi di pedesaan juga dibagi lagi menjadi kelas-kelas sosial di zaman Belanda

BERITA JOGJA – Masyarakat pedesaan di Jogja Tempo Doeloe pada awal 1900-an mengenal tingkatan sosial yang cukup unik. Tiap individunya dikelompokkan berdasarkan harta dan profesi mereka sehari-hari. Laiknya masyarakat perkotaan, kelas sosial yang tinggi di masyarakat pedesaan mendominasi kelompok masyarakat pedesaan yang ada di bawahnya.

Ilustrasi warga pribumi tempo doeloe (Lukisan koleksi Tropen Museum)

Ilustrasi warga pribumi tempo doeloe (Lukisan koleksi Tropen Museum)

Selo Soemardjan mencatat ada empat kelas sosial pada masyarakat pedesaan di Jogja tempo doeloe. Pertama, ada kelas Kuli Kenceng, yang menempati kedudukan sosial tertinggi. Mereka yang berada di puncak ini adalah warga desa pemilik sawah yang bisa diairi atau memiliki tanah kering yang bisa ditanami.

Posisi sosial yang berada di bawah Kuli Kenceng adalah Kuli Karangkopek. Mereka tidak memiliki sawah tapi hanya pekarangan biasa. Di bawahnya ada kelas Kuli Indung, yaitu kelompok yang tidak memiliki sawah atau pekarangan tapi mempunyai rumah di tanah orang lain.

Kelas sosial yang terakhir adalah  Indung Tlosor. Kelas sosial yang paling rendah pada masyarakat pedesaan ini tidak memiliki rumah atau tanah. Mereka yang berada dalam posisi sosial ini menumpang pada keluarga lain dan bekerja untuk mereka sebagai imbalannya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar