Wawancara khusus Jaya Hartono

Wawancara Khusus: Jaya Hartono

Oleh Jatu Raya,

BERITA JOGJA – Dengan wajah semringah, Jaya Hartono menyilakan saya masuk ke dalam ruangannya di MESS Stadion Maguwoharjo. Usai menyilakan saya duduk, ia ke belakang sebentar lalu membawakan segelas kopi hangat untuk saya. “Santai saja, mau merokok juga silakan. Kita ngobrol santai saja pagi ini ya,” kata eks pelatih Persik Kediri ini ramah. Berita Jogja: […]

Wawancara khusus Jaya Hartono

Jaya Hartono ketika memimpin latihan PSS (Foto: Aristides)

BERITA JOGJA – Dengan wajah semringah, Jaya Hartono menyilakan saya masuk ke dalam ruangannya di MESS Stadion Maguwoharjo. Usai menyilakan saya duduk, ia ke belakang sebentar lalu membawakan segelas kopi hangat untuk saya. “Santai saja, mau merokok juga silakan. Kita ngobrol santai saja pagi ini ya,” kata eks pelatih Persik Kediri ini ramah.
Berita Jogja: Om, ini kali pertama melatih tim Divisi Utama (DU). Kenapa mau dan mengapa PSS?

Jaya Hartono: Sepakbola itu enggak melulu soal kualitas klub namun juga entertainment. PSS punya dua hal itu, entertainment dari suporter ada, lapangan bagus,dan kuat juga di finansial.

Memang berapa yang ditawarkan PSS untuk mendatangkan seorang Jaya Hartono?

Cukup lah buat saya. Soal nominal saya enggak bisa bilang, harga ISL dan DU itu berbeda. Jadi pakai harga DU.

Kedatangan Om ke Maguwo sekaligus membuat Manajemen mendatangkan empat pemain berpengalaman. Ada Syamsidar, Harry Prasetyo, Danan Puspito, dan Wawan Widyanto. Apakah itu bagian dari kontrak?

Enggak juga, karena beberapa pemain itu saya ajukan setelah melihat komposisi pemain PSS waktu melawan Persiba Bantul. PSS butuh keempat pemain itu, mereka juga punya karakter yang kuat. Sebab saya membangun PSS dari nol dan targetnya juga ISL. Masa mau ISL pemain kita ecek-ecek sih?

Itu juga alasan mencoret enam pemain lokal bibit muda Sleman?

Kompetisi berbeda dengan pembinaan. Saya ditugasi untuk membikin tim yang siap berkompetisi, kalau pembinaan kan beda urusannya. Tapi saya terbiasa mengambil satu atau dua pemain muda untuk saya persiapkan menjadi pemain berkualitas musim berikutnya.

Seperti Haryono sewaktu di Deltras ya Om?

Nah iya. Saya ingat betul sama Haryono. Dia saya ambil dari klub lokal ke Deltras. Gajinya waktu itu cuma berapa juta gitu dan tidak pernah saya mainkan. Selama satu musim saya persiapkan dia mengisi posisigelandang bertahan. Di musim kedua, dia sudah jadi pemain inti. Waktu saya ditarik Persib, saya ajak dia ke sana. Karena Ibunya sudah memasrahkan pada saya, Haryono mau.

Dapat persenan enggak waktu itu Om dari Haryono?

Wah selama saya jadi pelatih, saya enggak pernah minta hal begituan. Itu adalah hak pemain.

Kalau di PSS, siapa kira-kira yang mau dijadikan pemain jadi Om?

Edo sebenarnya. Dia bek bagus tapi kurang punya karakter. Syamsul kiper juga. Saya heran pemain bagus seperti Syamsul tidak dipanggil ke Timnas U-19 atau U-23. Dia lebih bagus daripada kiper Timnas era Indra Sjafri. Saya kira tahun depan mereka sudah mulai matang dan bisa dijadikan pemain kompetisi.

Kalau soal suporter dan stadion maguwoharjo sendiri gimana om?

Suporter luar biasa entertainmentnya. Soal stadion, rumputnya bagus dan mirip di stadion-stadion Italia. Waktu pertama kali ke sini (MIS) saya langsung perintahkan agar bola dipompa sekeras mungkin agar sesuai dengan kedalaman lapangan ketika diinjak. Main di MIS membuat tenaga pemain cepat habis, jadi harus dibiasakan mulai sekarang.

Dari Komposisi pemain PSS sekarang ,mana posisi yang lagi digembleng?

Bek sayap dan gelandang. Karena saya dulu main di bek sayap, saya tahu betul apa yang harus dilakukan. Mulai dari memyisir lapangan, menyerang, lalu membantu pertahanan. Saya mau siapkan bek sayap PSS seperti Rasmoyo, Aditya, Taji dll jadi bek sayap yang handal dan enggak gampang capek. Soal gelandang, mereka juga saya tuntut agar kreatif dan enggak malas bantu pertahanan.

Formasi apa yang disiapkan untuk PSS dan gaya bermain seperti apa?

Saya lebih suka 4-4-2 daripada 3-5-2 yang sempat jadi pakem sepakbola nasional. PSS juga saya siapkan ke 4-4-2 dengan pemain bertahan mulai setengah lapangan. Soal strategi lain itu rahasia lah ya, jangan bocor di media. Hehehehe…

Strategi Jaya Hartono

Jaya membeberkan sedikit program latihan bek bertahan sejak lini tengah (Foto: Aristides)

Kalau 11 pemain inti boleh dong dibocorin Om

Ketiga Kiper (Herman Batak, Syamsidar, Gratheo) punya peluang yang sama. Di bek mungkin Harry Pras atau Elvis Nelson, Danan Puspito, Rasmoyo, Aditya atau Taji. Tengah Ahmad Sembiring, M.Rifky atau Tommy Pranata, Dicky Prayoga, Johan Arga atau Voller Ortega. Depan Wawan sama Agung. Masih ada peluang pengubahan lagi tergantung bagaimana performa mereka.

Pemain musim lalu, Rasmoyo dan Herman Batak jadi pujaan suporter. Berani enggak mencadangkan mereka?

Jangankan mereka, pemain bintang yang performanya menurun saja bakal saya cadangkan. Bahkan Gonzalez dulu itu saya cadangkan karena selama 11 pertandingan cuma cetak dua gol. Diprotes sama manajemen dan istrinya, saya bilang bodo amat, kalau tim mau bagus harus ikut keputusan saya.

Dengan kata lain manajemen PSS juga haram intervensi soal keputusan pemilihan pemain?

Tentu. Soalnya saya yang melatih dan tahu benar soal persoalan pemain. Percaya sama saya, maka kita bakal jadi juara.

Soal keputusan PSSI yang meniadakan pemain asing di DU? mendukung enggak?

Mendukung lah. Soalnya gara-gara pemain asing, kita kekurangan second striker. Sekarang siapa sih second striker Timnas yang berkelas? Enggak ada. Jadi saya harap ini merangsang kemunculan striker lokal yang matang dalam kompetisi.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar