PSIM Warisane si Mbah

Wawancara Khusus: Ketua Umum PSIM Jogja

Oleh Jatu Raya,

BERITA JOGJA – Ketua Umum sekaligus Manajer PSIM Jogja, Agung Damar Kusumandaru bukan orang baru d dunia pesepakbolaan Jogjakarta. Sejak Remaja, Agung yang dibesarkan di tengah keluarga pecinta PSIM tak pernah absen menonton Siswandi Gancis dkk berlaga di stadion. Bahkan ia juga pernah menjadi Ketua Umum kelompok suporter Brajamusti. Pada Beritajogja.id, Agung menceritakan banyak hal […]

BERITA JOGJA – Ketua Umum sekaligus Manajer PSIM Jogja, Agung Damar Kusumandaru bukan orang baru d dunia pesepakbolaan Jogjakarta. Sejak Remaja, Agung yang dibesarkan di tengah keluarga pecinta PSIM tak pernah absen menonton Siswandi Gancis dkk berlaga di stadion. Bahkan ia juga pernah menjadi Ketua Umum kelompok suporter Brajamusti.

Pada Beritajogja.id, Agung menceritakan banyak hal tentang PSIM, termasuk alasannya mau menjadi Ketum sekaligus Manajer.

Wawancara Khusus Agung Damar

Agung Damar Kusumandaru, Ketum PSIM (Foto: Aristides)

Jadi Manajer sekaligus Ketum tugas yang berat. Kok mau sih Om?

Sebenarnya sejak zamannya Pak Herry Zudianto masih jadi Walikota saya selalu diminta jadi General Manager (GM). Tapi saya dulu selalu menolak. Di saat kondisi PSIM seperti sekarang ini, saya tidak bisa menolak lagi.

Keadaan yang seperti apa Om maksudnya?

Kemarin kita kan mengumpulkan Caretaker agar PSIM bisa ikut kompetisi Divisi Utama (DU). Terus Pak Kardi mendadak mengundurkan diri karena sesuatu hal. Kalau dibiarkan begini terus, masalah tidak pernah selesai. Apalagi PSIM sudah memberikan semuanya untuk Jogja, masa saya enggak mau.

Memangnya apa yang sudah diberikan PSIM untuk Om?

Bukan untuk saya saja, sejak berdiri, PSIM sudah ikut berjuang membebaskan rakyat Jogja dari penjajahan. Bersama-sama Kraton, kita bikin alat perang untuk kemerdekaan. PSIM juga mampu menyatukan seluruh warga DIY melawan penjajahan dengan sepakbola. Jadi ini warisan yang harus kita jaga, kita lestarikan, dan kita perjuangkan. PSIM ini Warisane buyut kita dulu, Warisane si Mbah! Jersey PSIM juga bukan cuma kostum.Kalau kita amati, di jersey PSIM bawa identitas Jogja. Ada tugunya, batik, dan lain-lain. Jadi PSIM sudah memberi banyak untuk Jogja dan sebab itu saya bilang PSIM itu segalanya.

Apa enggak takut soal masalah penggajian pemain Om?

Kalau saya sama manajemen yang lain sudah komitmen. Para pemain juga sudah saya temui. Pokoknya kita sama-sama komitmen. Kalau saya Bismillah saja pokoknya niat. Kemarin kan PSIM sudah gajian bulan pertama. Klub yang lainnya belum gajian, kita sudah.

Apa yang Om Agung lihat dari skuat PSIM musim ini?

PSIM tahun ini banyak diisi pemain muda Jogja. Secara teknis cukup bagus, namun ada beberapa yang mentalnya belum jadi. Saat main di kandang ada yang sering gugup, tapi pas tandang, tiba-tiba istimewa mainnya. Saya sering mengukur mental pemain dari bagaimana dia nendang penalti. Tendangan penalti itu tekanan mentalnya berbeda dilihat dari bagaimana bola ditaruh di titik putih.

Maksudnya bagaimana itu Om?

Akan berbeda bagi si penendang jika, pertama kiper lawan yang menaruh bola di titik putih. Kedua, si pemain sendiri yang naruh bola, pakai kaki atau pakai tangan. Kalau kiper lawan yang menaruh bola, artinya itu tantangan. Mental pemain kan akan berpengaruh.

Sejauh ini bagaimana hubungan dengan para pemain?

Cukup baik. Setelah mengantar anak ke sekolah, pagi saya ke Wisma buat ketemu pemain. Komunikasi juga cukup asyik. Kita semua keluarga soalnya. Saya sering pesan ke pemain agar ke depan memposisikan PSIM sebagai rumah dan saya pengen mereka jadi pemain yang baik. Pemain yang baik artinya enggak sering merugikan tim sama ulah di dalam atau di luar lapangan dan pemain yang jujur, enggak bisa dibeli.

Soal stadion sendiri yang belum jadi apakah akan ada penggantinya?

Iya kita terpaksa cari stadion pengganti agar masih tetap bisa main. Rencananya kita mau audiensi di Wates pekan depan untuk penggunaan stadion.

Waktu dulu kan pernah jadi Ketua Brajamusti, tekanannya banyak mana Om dengan sekarang pas jadi Ketum?

Sejak 2006 waktu PSSI bilang suporter bagian dari klub, jadi makin kompleks waktu menjabat jadi Ketum. Tapi ya itu tadi, niat kami baik dan bismillah saja agar PSIM bisa survive. Syukurlah beberapa sponsor sudah mulai masuk.

Apa yang masih diingat ketika menjabat Ketum Brajamusti dulu?

Saya masih ingat banget waktu tur luar kota ngikutin PSIM dulu. Naik bis bareng, makan bareng, kere bareng, semuanya sama-sama. Apalagi waktu suporter tamu menyambut kita, jadi nambah banyak teman.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar