Yuni Satia Rahayu : Pilihan hidup saya untuk selalu berpihak pada rakyat

Oleh azkamaula,

BERITA JOGJA – Dalam hidup, orang selalu membuat pilihan-pilihan. Tidak hanya penynagkut dirinya sendiri, tetpai juga mengangkut orang-orang disekitarnya. Itu pula yang dilakukan oleh Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu yang kini maju sebagai calon Bupati Sleman. Sejak dia berkenalan dengan dunia aktivis mahasiswa dan NGO (Non Goverment Organitation), dia pun sudah menentukan pilihan hidupnya, […]

BERITA JOGJA – Dalam hidup, orang selalu membuat pilihan-pilihan. Tidak hanya penynagkut dirinya sendiri, tetpai juga mengangkut orang-orang disekitarnya. Itu pula yang dilakukan oleh Wakil Bupati Sleman, Yuni Satia Rahayu yang kini maju sebagai calon Bupati Sleman. Sejak dia berkenalan dengan dunia aktivis mahasiswa dan NGO (Non Goverment Organitation), dia pun sudah menentukan pilihan hidupnya, yaitu selalu berpihak pada rakyat.

Yuni Satia Rahayu dan Danang Wicaksana dalam deklarasi Cabup-Cawabup, Senin (27/7) di kantor PDIP Sleman. (Foto: Azka)

Yuni Satia Rahayu dan Danang Wicaksana dalam deklarasi Cabup-Cawabup, Senin (27/7) di kantor PDIP Sleman. (Foto: Azka)

Pilihan itu muncul ketika dia diterima sebagai mahasiswa Sejarah UGM. Saat itu dia ikut dalam organisasi mahasiswa dan ikut terlibat dalam beberapa aksi dan advokasi warga. “Saya dulu daftar kuliah di Solo dan di UGM, kebetulan diterima di UGM. Selama masa kuliah banyak hal yang kemudian mempengaruhi pandangan saya, termasuk akhirnya menentukan pilihan untuk selalu berpihak pada rakyat,” kata Ibu dua anak tersebut saat ditemui di rumahnya Pugeran, Sleman, Sabtu (8/8).

Di penghujung tahun 1980-an dia pun sudah bergabung dengan masyarakat untuk melakukan penolakan pembangunan waduk Kedung Ombo yang meliputi wilayah Sragen, Boyolali dan Grobogan.

“Saat itu saya masih semester tiga, perkenal dengan kawan aktivis dan LSM ternyata memberikan manfaat yang luar biasa, paling tidak saya lebih memperhatian masyarakat kecil,” ungkap perempuan yang akrab juga dipanggil Neni.

Usai lulus kuliah, anak dari pasangan tentara dan tenaga kesehatan ini pun kemudian memilih untuk bekerja di NGO. Pada tahun 1991 dia dan teman-temannya membuat NGO yang bernama Rumpun Tjut Nyak Dien. Di NGO itu Yuni pun aktif melakukan advokasi terhadap PRT (Pekerja Rumah Tangga).

“Fokus kami dulu adalah Perempuan, dan kita melihat pekerja rumah tangga itu sebagian besar adalah perempuan. Ini pula yang selalu saya perjuangkan hingga saat ini,” tambahnya.

Tidak hanya di Rumpun Tjut Nyak Dien, pada tahun-tahun berikutnya Yuni pun bergabung dengan beberapa NGO seperti di OWA (Organization Woman Advancement) dan WCC (Women Crisis Center). Pada tahun 2000 dia pun mendirikan Rumpun Gema Perempuan di Jakarta untuk melakukan advokasi terhadap isu perempuan.

“Saya tahun 1999 memutuskan bergabung dengan partai, karena mau tak mau perjuangan untuk rakyat tidak bisa hanya dari luar, saya harus masuk ke sistem untuk memperjuangkan rakyat,” tandasnya.

Dapatkan Berita Jogja Terbaik Setiap Harinya

Komentar